pay tong
Selasa, 28 Juni 2011
Senin, 27 Juni 2011
Cerita Bijak Tentang Kehidupan
Suatu siang di benua hijau,, seorang guru dan seorang pemuda sedang duduk di bawah pohon di tengah lapangan rumput..
Kemudian si pemuda bertanya kepada sang guru tentang arti mencintai..
Sang guru terdiam,, sampai kemudian menjawab pertanyaan muridnya dengan memberinya sebuah tugas..
Sang guru terdiam,, sampai kemudian menjawab pertanyaan muridnya dengan memberinya sebuah tugas..
Sang guru menyuruh pemuda itu untuk berjalan menyusuri padang rumput tempat mereka bersinggah,,
yang hampir tak terlihat ke mana ujung dari padang rumput tersebut..
Sang pemuda diperintahkan untuk menemukan setangkai bunga rumput yang indah,,
untuk kemudian diberikan kepada sang guru..
yang hampir tak terlihat ke mana ujung dari padang rumput tersebut..
Sang pemuda diperintahkan untuk menemukan setangkai bunga rumput yang indah,,
untuk kemudian diberikan kepada sang guru..
Pemuda itu berjalan menyusuri padang rumput yang luas..
Dalam perjalanan itu dia menemukan sehelai bunga rumput yang indah,,
namun tidak di ambilnya karena dia berpikir akan menemukan satu lagi yang lebih indah jika dia mencari lagi..
di sepanjang perjalanannya dia menemukan banyak bunga rumput yang indah dengan berbagai rupa..
dan tanpa pemuda itu sadari,, hari mulai malam,, ia pun telah sampai di ujung padang rumput..
pada akhirnya dia menemukan bunga rumput yang paling indah yang tumbuh di penghujung padang rumput..
segera ia pun kembali ke tempat di mana sang guru menunggu..
Setelah sampai ke hadapan sang guru,, pemuda itu pun memberi bunga rumput yang dia temukan di ujung padang rumput..
namun tidak di ambilnya karena dia berpikir akan menemukan satu lagi yang lebih indah jika dia mencari lagi..
di sepanjang perjalanannya dia menemukan banyak bunga rumput yang indah dengan berbagai rupa..
dan tanpa pemuda itu sadari,, hari mulai malam,, ia pun telah sampai di ujung padang rumput..
pada akhirnya dia menemukan bunga rumput yang paling indah yang tumbuh di penghujung padang rumput..
segera ia pun kembali ke tempat di mana sang guru menunggu..
Setelah sampai ke hadapan sang guru,, pemuda itu pun memberi bunga rumput yang dia temukan di ujung padang rumput..
Sejenak sang guru memperhatikan bunga rumput si pemuda.. lalu kemudian memberitahu kepada pemuda itu,,
bahwa tidak ada yang spesial dan indah dari bunga yang ia temukan..
bahwa tidak ada yang spesial dan indah dari bunga yang ia temukan..
Pemuda itu lalu mengakui bahwa dalam perjalanannya menyusuri padang rumput tadi,, dia menemukan beberapa bunga rumput yang indah,,
namun dia berpikir bahwa dia akan menemukan yang lebih indah jika dia meneruskan pencariannya..
hingga dia mencapai penghujung pencariannya dan menemukan satu bunga rumput terakhir..
namun dia berpikir bahwa dia akan menemukan yang lebih indah jika dia meneruskan pencariannya..
hingga dia mencapai penghujung pencariannya dan menemukan satu bunga rumput terakhir..
Sang guru pun tersenyum dan berkata bahwa itulah yang terjadi di kehidupan nyata..
rumput diibaratkannya orang - orang yang ada di sekitar kita..
bunga rumput yang indah bagaikan orang yang menarik perhatian kita.
padang rumput,, siang dan malam bagaikan rentangan waktu kehidupan kita..
rumput diibaratkannya orang - orang yang ada di sekitar kita..
bunga rumput yang indah bagaikan orang yang menarik perhatian kita.
padang rumput,, siang dan malam bagaikan rentangan waktu kehidupan kita..
Dalam perjalanan kita untuk mencari sesuatu apapun,, seperti halnya cinta..
hendaklah tidak selalu membandingkan dan berharap bahwa ada yang lebih baik jika kita melakukan pencarian lagi..
dan mereka tidak akan pernah kembali mengulang semuanya..
Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4123636
Nilai Cinta
Di suatu pulau kecil ada seorang gadis bernama Cinta dan teman-temannya yang bernama Kecantikan, Kesedihan, Kegembiraan, dan Kekayaan. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun, suatu ketika datang badai menghepas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.
Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Dia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu, air semakin naik membasahi kakinya. Tak lama cinta melihat kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! kekayaan! tolong aku!", teriak cinta. "Aduh! maaf Cinta, aku tak dapat membawamu serta. .. perahuku ini akan tenggelam, lagipula tak ada tempat lagi bagimu", kata Kekayaan. Cinta sedih sekali namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun kegembiraan terlalu gembira karna ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan Cinta, air semakin tinggi dan Cinta semakin panik.
Tak Lama lewatlah Kecantikan. "Kecantikan, bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta lagi. "Wah, Cinta.. kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu nanti bisa mengotori perahuku yang indah ini " sahut kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan. "Oh Kesedihan, bawalah aku bersamamu!", kata Cinta. " Maaf Cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja", kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa.
Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!". Cinta menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat Cinta turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah cinta sadar ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya.
Taukah kamu siapa yang menolong Cinta?? Dia Waktu. Waktu datang menyelamatkan Cinta. Hanya waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta. ..^^
Sumber: http://id.shvoong.com
Cobalah untuk merenung
Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan anda tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka anda akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran anda yang bening.
Selama berhari-hari anda disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin. Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat anda mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan anda mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini anda mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran anda yang bening.
Selamat mencoba .. !!! :D
Selamat mencoba .. !!! :D
Aisyah binti Muzahim
Sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya.
Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.
Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.
Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman. Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas
kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Aisyah binti Muzahim, istri Fir’aun.
Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Fir’aun. Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya. Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka, “Apa yang kalian ketahui tentang Aisyah binti Muzahim?”. Mereka menyanjungnya. Lalu Fir’aun berkata lagi kepada mereka,“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.” Berkatalah mereka kepadanya,“Bunuhlah dia!”
Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.
Dimulailah siksaan itu, Fir’aun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik
matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah… saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik dan bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mugkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu.
Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap? Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya. Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala. Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Fir’aun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.
Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdo’a memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Qur’an, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11)
Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Fir’aun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Fir’aun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.
Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang
tak berperikemanusiaan.
Saudariku..
Tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal
Tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal
untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.
Saudariku..
Tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu? Apakah kita tidak lalu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan
segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan
di sisi manusia. Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita untuk meraih janji Allah Ta’ala, surga dan kenikmatannya.
Saudariku…
Jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita. Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman. Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita. Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.
Amiin .. ^^
Maraaji’:
14 Wanita Mulia dalam sejarah Islam (terjemahan dari Nisa’ Lahunna
Mawaqif) karya Azhari Ahmad Mahmud
Puisi BJ Habibie untuk Alm.istrinya
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. ..
Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya. ..
dan kematian adalah sesuatu yang pasti. ...
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. . ..
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja,..
lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati..,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. ...
Kau tahu sayang. ..
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. ...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, ...
pada kesetiaan yang telah kau ukir, ...
pada kenangan pahit manis selama kau ada, ...
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini....
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang,...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.. ..
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua???
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, ...
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini....
Selamat jalan,. .
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,. ..
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. ..
selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, ..
selamat jalan, ..
calon bidadari surgaku . ..
Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya. ..
dan kematian adalah sesuatu yang pasti. ...
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. . ..
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja,..
lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati..,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. ...
Kau tahu sayang. ..
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. ...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, ...
pada kesetiaan yang telah kau ukir, ...
pada kenangan pahit manis selama kau ada, ...
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini....
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang,...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.. ..
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua???
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, ...
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini....
Selamat jalan,. .
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,. ..
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. ..
selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, ..
selamat jalan, ..
calon bidadari surgaku . ..
Langganan:
Postingan (Atom)





